KEBENARAN DALAM DUNIA IDE PLATO


 KEBENARAN DALAM DUNIA IDE PLATO



 KEBENARAN DALAM DUNIA IDE PLATO
 IDE PLATO

Jika ada yang bertanya, mengapa semuanya begitu tidak pasti dan relatif. Mengapa apa yang terkadang kita anggap sebuah kebenaran, ternyata hanyalah kepalsuan yang dibungkus dengan berbagai hiasan spekulasi dan manipulasi. Jawabannya adalah karena dari awal kita hidup pada kehidupan yang tidak sepenuhnya nyata.

Ada sekawanan orang yang dibelenggu sedemikian rupa, mereka tidak bisa bergerak menghadap kearah tembok gua. Nah, didalam gua itu ada api unggun yang terletak didepan pintu masuk gua, sehingga api unggun itu menampilkan bayangan yang terdapat di dunia luar gua. Jadi apa yang kawanan orang lihat itu selama hidupnya adalah bayangan dari api unggun tersebut.

Tapi entah bagaimana caranya, ada seorang yang berhasil melarikan diri dari belenggu tersebut, kemudian keluar dari gua, disana dia mendapat pencerahan (enlightenment) tentang dunia yang ada diluar, sebuah realita factual, yang berbeda sama sekali dari bayangan yang terpantul dari api unggun di dinding gua.

Sekembalinya di gua, dia menceritakan pengalamanya tersebut, tapi tidak disangka, justru dia dimaki, dan bila dia melepaskan belenggu orang-orang dalam gua tersebut dia bisa saja malah dibunuh.

Cerita diatas adalah cerita klasik dari seorang Filosof Athena dari Yunani, Plato, murid dari Socrates dan guru dari Aristoteles. Plato terkenal dengan pemikiran dualisme nya yang memisahkan antara dunia ide, dan dunia gejala, yaitu dunia yang diperoleh manusia lewat persepsi indera-indera.

“Kebenaran” Milik siapa?

Ada hal yang unik dari cerita manusia-gua-nya Plato, manusia yang berhasil melarikan diri dari belenggu dan melihat kenyataan yang melampaui bayangan api unggun di didinding gua ternyata ndak diterima oleh orang-orang yang selama ini dibelenggu dan hanya melihat realitas hanya dari bayangan api unggun, dia di-sesatkan, di-bid’ahkan, disingkirkan, mereka telah terlalu nyaman melihat realitas semu dari bayangan.

Kebenaran, bagi Plato, terletak pada dunia idea, dan dunia gejala hanyalah representasi yang tidak sempurna dari dunia idea. Satu-satunya masalah yang muncul dari manusia gua Plato diatas barangkali adalah : dapatkah kita mengetahui siapa diantara kita yang merupakan manusia yang melihat bayang-bayang, dan siapa yang melihat realitas diluar gua?

Maka apa yang Benar itu dapat dicapai oleh manusia? Sering kita jumpai aksi sepihak macam pembakaran tempat ibadah, penomorduaan jenis kelamin, ras, suku, korupsi massal, dan berbagai bentuk kekerasan, mereka menganggap kebenaran versi merekalah yang pasti benar, hakiki, sedangkan yang lain salah. bahkan dalam sebuah diskusi selalu muncul caci maki.. hujat bahkan bahkan memvonis seseorang tanpa menghargai pengetahuannya.. bahkan kalau kita tidak senang langsung dibunuh atau dibaned.

Kalau seudah begitu untuk menghindari keributan mungkn kita boleh berpendapat, kalau yang namanya “Kebenaran” lebih baik dibunuh saja karena itu semua bukanlah sebuah pendidikan.

0 Comments


EmoticonEmoticon